Destin Histoire PPL- Belajar Mengajar


Masuk tahun ke-4 kuliah, masuk ke masa-masa penghujung para penghuni kampus. Tahun ke-4 ini di mulai dengan kegiatan Praktik Pengalaman Lapangan alias praktek mengajar di SMA. Gak pake panjang lebar lagi, SMAN 1 Kendal atau yang lebih dikenal SMANIK menjadi lokasi PPL saya. Tidak beda jauh dengan iklim di Semarang, suhu udara di Kendal juga Panas, khususnya SMA N 1 Kendal yang masuk daerah dataran rendah, perbedaan yang paling terasa mugkin adalah jam kerja. Ketika di kampus kuliah biasanya masuk jam 8 atau kelas paling pagi jam 7, maka di SMA masuk sebelum 06.45 merupakan hal pertama yang cukup bikin kaget qkqk ditambah lagi hari Senin Upacara bendera masuk 06.15 benar-benar zona waktu yang beda bagi mahasiswa tingkat menengah seperti kami.

Berujung menjadi late post setelah 4 bulan blog tak tersentuh akhirnya ada kemauan untuk nulis lagi. Sebelum ingatan saya semakin pudar, sambil menatap langit-langit coba mengingat kemarin ngapain aja, …………..hmm sudah mulai banyak yang terlupa.

Kesan Pertama, waktu itu
Masih ingat pertama kali waktu dimulainya PPL, usai upacara pembukaan di kampus saya langsung berangkat ke Kendal Bareng tim PPL dari Semarang, saya di belakang bareng Rahma cukup ngebut, dekat Kelenteng Sampokong tiba-tiba di depan kami, ban motornya Adib bocor sampai ban luarnya sobek. Untungnya di depan ada bengkel motor yang cukup ramai. Setelah memberi tahu tim ppl yang sudah di depan lewaat sms, Perjalanan saat itu sebenarnya mau diteruskan dengan Bus tapi sayangnya bus di dekat situ hanya lewat 1 jam sekali, pun terlewat karena Adib sedang di dalam Bengkel waktu itu. saking lamanya menunggu, motor yang rencananya dititipkan di bengkel sudah selesai diganti bannya. perjalanan ke Kendal kami lanjutkan dan akhirnya sampai di Sekolah dengan perasaan sangat sadar kalau kami sudah telat.

Ada chat masuk dari tim yang sudah sampai de Sekolah kalau ceremonial masih belum selesai. Sampai di depan pintu ruang ceremonial mengingat sudah 2 jam terlambat, rasanya pingin balik lagi, tapi nanggung. Dengan berat hati masuklah ke ruangan dan yang kami lihat sudah banyak tempat duduk kosong dengan sisa-sisa box makanan dan minuman,  di dalam ruangan hanya tinggal tim PPL kami dan Empat Guru. Dua orang Guru di depan  DRS. Daryanto dan DRS. Nuryanto selaku wakil Kepala sekolah memberikan arahan kepada Mahasiswa PPL. Awal permulaan menjadi praktikan sudah terlambat merupakan awal yang tidak baik menjadi pelajaran bagi kami khususnya saya.

Rekan Seperjuangan
Sebelum datang ke Smanik, seminggu sebelumya sudah mencari tempat kost yang cocok, dibantu bu Indri dan teman-temannya, Aji, Arij dkk seharian muter-muter di sekitar Smanik akhirnya gak nemu kost yg cocok haha maaf ya kawan-kawan. . Akhirnya kost saya dapatkan usai upacaran penerimaan PPL di Sekolah, jaraknya masih lumayan dekat Sekolah, 10 menit kalau berjalan kaki, suasananya tenang meskipun di sebelahnya ada pemakaman namun jauh dari kesan seram dan yang paling saya suka yaitu dekat dengan warung makan Mbak Dah, warung ini benar-benar bikin kangen karna masakannya harga pas buat kantong dan rasanya enak.

Saat datang ke Smanik, tim PPL dari Unnes tidak sendirian, tim PPL dari UIN juga sedang melaksanakan kegiatan yang sama dengan kami. Tim PPL kami terdiri dari 19 orang yang berasal dari berbagai daerah seperti Wonosobo, Semarang, dan paling dominan dari Kendal. Tentunya sebelum peneriman di Sekolah kami pernah bertemu lebih dari 2-3 kali sehingga sudah saling mengenal, apalagi dengan teman satu jurusan Bahasa dan Satra Asing; Dina, Rahma, Eva, dan Lita. Beruntungnya Perserta PPL di Smanik untuk bahasa Jepang paling banyak diantara sekolah yang lain, Bahasa Jepang jadi terasa tidak terlalu asing disini.

Awal kegiatan di sekolah bersama Rahma, Dina. Kami bertiga mengikuti kelas Asih Sensei, dua minggu pertama kegiatan kami mengamati cara mengajar mengajar beliau di kelas, minggu selanjutnya kami bertiga mengajar bergiliran dalam satu kelas. Karena kelas bahasa Asih Sensei cukup banyak, akhirnya dibagi bagian saya di kelas XI IPA 6, IPA 7 dan XI IPS 4. Kelas lainnya X IPS 1, X IPS 2, X IPS 3, X IPS 4, X BB di diisi oleh Rahma dan Dina, setiap dua minggu kami bertiga bertukar kelas untuk menambah pengalaman, meskipun sebelum kami sebelumnya sudah mengikuti mata kuliah mikro teaching, praktek mengajar di depan sesama mahasiswa lain, di Sekolah kita tetap melakukan observasi bergatian. Ketika Saya mengajar di depan kelas, Dina dan Rahma juga masuk ke kelas dan mengamati proses pelajaran dan memberi masukan untuk saya, sebaliknyapun ketika Dina atau Rahma mengajar dikelas saya juga mengamati kelas dan kadang jadi bahan untuk contoh materi.

Asih Sensei juga mengawasi kami ketika mengajar, dan memberi kritik dan masukan seusai kelas. Dosen kami Chevy Sensei juga datang jauh-jauh dari Semarang dan hadir di kelas kami, saat itu tidak seperti biasanya atsmofir di kelas rasanya jadi lebih berat karena gugup. Bagian dari mengajar yang menurut saya sulit yaitu mengusai kondisi siswa dan kelas, karena ketika siswa siswa sudah tidak semangat dan tidak tertarik dengan pelajaran yang kita sampaikan rasanya saat itu terasa jadi hari yang benar-benar berat. Kebalikanya saat materi diterima sebagian besar siswa dengan semangat dan mudeng rasanya senang, bisa-bisa sampai merasa “baru sekarang hidup bisa sangat berarti” juga bisa.

Seperti kata Asih- Sensei,

“Ambil baiknya, jangan diingat yang buruknya, Selamat melanjutkan step berikutnya. Semoga ilmu yang di dapat di SMANIK dapat bermafaat di masa yang akan datang.”

Menjadi awal memulai langkah baru saya. 

Setelah menjalani PPL kurang lebih 2 bulan, saya semakin menyadari beratnya menjadi Pengajar, sampai harus berpikir ulang kalau bercita-cita menjadi guru, karena menjadi guru itu rumit terlepas dari pembuatan bahan ajar, teknis RPP, dan cara bersikap. Mengingat Ibuk juga juga pengajar di SMP,  bahkan sampai pernah merasakan rasanya diajar oleh Ibu sendiri di Kelas waktu SMP. Sampai di sini dari pada bilang “tidak ingin jadi guru” malah saya jadi semakin kagum dan salam dua ibu jari untuk para guru!

14580460_1319886358024044_1000979131_n
ilustrasi by Ma’mur Prayogi

Smanik Nihongo Army

A post shared by Rahma Yuniar (@uzu_chan) on

masih banyak ingin saya ceritakan soal PPL tapi tulisan yg lain masih jadi draft belum sempat di publish karena masih kurang kata dan sudah mulai lupa. Terakhir saya ingin mengucapkan terima kasih untuk SMA N 1 Kendal, PPL Kendal , Unnes dan semuannya. Bagian terima kasih ini kadang jadi bagian paling bikin pusing, karena perasaan khawatir kalau ada yang terlewat dan lagi kalau ada yang protes. Pastinya ada nama nama yang terlewat, bukan karena jasanya yang kurang tapi karena kelemahan saya yang tidak mampu mengingat dengan baik. biarpun demikian jasa mereka semua tidak berkurang sedikitpun.

tulisan berikutnya ingin menulis tentang tim PPL, kalau bisa. .


PPL  教育実習 kyouiku jisshuu  
Mikro Teaching 模擬授業 mogi jugyou
Pengajar di SMA 高校教諭 koukou kyouyu

Iklan

2 pemikiran pada “Destin Histoire PPL- Belajar Mengajar

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s