Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit


インドネシアには『sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit』 というたとえがある。日本語では「小さいことから、丘になる」、それは小さいやりごとから、結果は大き事になるという意味だ。

昔から、インドネシアには丘が多いいで、人とともに生活をしているから。それで、よくこのたとえが使われる。現在でも、このたとえはお金を貯金している人がお金持ちになった場面で使われる。

私がこのたとえを紹介したいと思ったのは、このたとえが子供ころから、有名なたとえだ。それよりも、丘はインドネシアらしいの自然の環境の形である。そして、日本ではにているたとえがあり、せれはちりも積もれば、山となると言うたとえがあるから。日本人にとって、分かりやすいと思う。

現在、このたとえは生活には良く使うから、将来にもこのたとえは使うとおもう。

menulis itu tidak mudah, mengarang itu sulit. Maka kalau disuruh menulis karangan.. uhh(emoticon sweat drop)

menulis karangan dalam bahasa Jepang 作文 (sakubun) bisa dibilang sulit bagi saya, karena faktanya menulis karangan dalam bahasa Indonesia saja kesulitan. Kesulitan karena tidak terbiasa, sulit mengeluarkan kata-kata, tidak tahu mau memulai dari mana. Apalagi dengan keterbatasan perbendaharaan kata-kata rasanya sulit menuangkan gagasan kedalam bentuk tulisan.

Kali ini saya mencoba menulis karangan tentang perumpamaan di Indonesia yang tadi pagi baru saja di serahkan ke Sensei (Dosen). Mata kuliah sakubun semester ini, seperti biasa dilaksanakan sekali tiap minggunya. untuk satu tema bahasan memakan waktu 2 minggu. Minggu pertama adalah menulis karangan di kelas dan langsung dikumpulkan ke Sensei. Minggu ke dua saatnya memperbaiki hasil karangan di minggu sebelumnya yang sudah diberi tanda oleh Sensei. biasanya bagian yang diperbaiki hanya bagian yang diberi tanda saja. semakin banyak tanda yang diberikan ke tulisan kita, semakin banyak juga yang harus di perbaiki. Orang yang memperbaiki adalah kita sendiri, Sensei hanya memberi tahu bagian karangan kita yang salah, jadi siswa harus berjuang mencari tahu kata atau kalimat yang tepat untuk memperbaiki tanpa sepenuhnya tergantung Sensei. Biasanya siswa diberi waktu diskusi dengan teman di sekitarnya tentang karangannya masing-masing. “bagian ini bagaimana?”, “ini bener gak sih?”, “kok ini bisa salah sih?” ini pertanyaan yang sering muncul dalam diskusi. Setelah diskusi selesai biasanya pencerahan sudah mulai muncul ke otak (sfx: clingg!!).

Menulis tidak mudah, mengarang sulit. Menilik pada pengalaman pribadi, saya mengalami kesulitan dalam menulis karena tidak terbiasa. Mengingat saya tidak punya kebiasaan menulis, meskipun ada blog tapi postingan baru se-upil. Update blog sebulan hanya sekali, parahnya bulan lalu sampai 2 bulan hiatus. Apalagi ketika menuliskan karangan sakubun disini, ada rasa tidak percaya diri, tulisan ini mengandung unsur informatif atau tidak, menarik dibaca atau tidak, berbahasa Indonesia yang baik atau tidak (kalau sakubun maka berbahasa Jepang yang baik atau tidak). Semoga yang membaca matanya tidak sakit.

Sedikit demi sedikit lama-lama jadi bukit, perumpamaan yang menggambarkan hal kecil yang bisa menjadi hal besar. Mengumulkan recehan 100 rupiah dan 500 rupiah nantinya akan menjadi pundi-pundi uang yang banyak. Tapi ini bukan hanya tentang cara mengumpulkan uang, ada arti yang lebih luas lagi (emas, reksa dana, saham? Alah sama saja!) yang saya maksud yaitu agar tidak menganggap remeh hal-hal kecil disekitar kita. Kita sering menginkan hal yang besar tanpa memperhatikan hal-hal yang kecil dulu, tanpa sadar ternyata hal kecil tersebut memiliki dampak yang penting terhadap kehidupan kita. Apakah hal penting itu? Tentunya tiap orang pasti berbeda, misalnya menulis, bermain, keluarga merupakan hal yang penting bagi saya, lalu anda apa 🙂 ? kebiasaan menulis yang kadang berdampak besar dan instan memunculkan passion menulis, lalu hal-hal remeh seperti attitude di kehidupan sehari-hari yang kadang mempengaruhi penilaan orang lain terhadap kita. Apabila kita lebih memperhatikan hal-hal kecil tersebut hidup bisa jadi lebih mudah.

Terutama soal hal menulis, menulis disini yang saya maksud adalah menulis panjang, menulis panjang tentunya lebih panjang dari 140 karakter di micro blogging twitter ataupun update status facebook yang sering isinya menggalau. Kemudian blog menjadi salah satu media yang tepat untuk menulis panjang, kemampuan menulis panjang  ini saya yakin akan sangat berguna suatu saat, makannya saya latih lewat media blog, hasilnya curhatan gak penting seperti paragarah pada artikel yang saya buat ini. Sedikit kalimat penutup, untuk mencapai hal yang besar cukup memulai dari hal yang kecil dulu. Menulis buku yang tebal pun dimulai dari satu halaman kertas dengan mengembangakan butir gagasan menjadi tulisan yang panjang. Mari lakukan hal kecil berdampak besar di hari ini!


perumpamaan たとえ tatoe
artikel 記事 kiji
penulis 作家 sakka

Iklan

4 pemikiran pada “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit

Bagaimana menurut Anda? What do you think?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s