Site icon Side Quest Pojok Bahasa Jepang

Gugup adalah temanku

Speech contest di UMY

Awal tahun ke 2 saya menempuh kuliah di Unnes. 23 Agustus 2014 adalah pertama kalinya saya mengikuti kontes pidato bahasa Jepang. Acara tersebut diadakan di gedung D Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), saat itu saya belum berharap menang menjadi juara karena saingan saya kakak-kakak senior dan sepertinya saya adalah peserta termuda di antara peserta lainnya -_-, bagi saya sendiri kemenangan cukup bisa berbicara membawakan pidato di depan para juri dan audien dengan lancar meskipun dengan tangan gemetaran karena terlalu gugup berbicara di depan orang banyak. Bahkan sebelum tampil saya mencari berbagai cara agar perasaan gugup saya berkurang, mulai dari merapal mantra naskah pidato selama perjalanan menuju gedung tempat acara, menggerak-gerakan jari tangan tidak jelas agar lebih lemas sampai menelepon Ibu tepat sebelum pertandingan dimulai dan lagi-lagi meminta agar didoakan agar saya tidak gugup, cara terakhir ini sepertinya cukup ampuh 🙂

Peserta pertama yang berpidato saya perhatikan dengan seksama sebagai referensi saya nanti. Sampai pada tengah pidatonya, perhatian saya sudah teralihkan pada naskah pidato saya sendiri karena peserta kedua adalah saya sendiri, sampai di sini rasa gugup kembali muncul, saya merasakan nama saya dipanggil, saya maju ke depan panggung karena saking gugupnya tiba-tiba lupa naskahnya dan ekspresi juri yang tadinya tersenyum mulai lenyap karena gaya gravitasi menarik bibir mereka ke bawah dan audien mulai mengalihkan perhatian bahkan ada yang menyoraki saya, tapi sorakan menyemangati

“Ganbatte! ayo bisa, jangan berhenti!” salah seorang audien bersorak menyemangati, disusul samar-samar suara sorakan hadirin lainnya yang suaranya tidak terlalu kedengaran jelas, namun sepertinya menyemangati juga.

Saya hanya bisa memprediksi gerakan-gerakan mulut audien yang mencoba menyemangati saya, terharulah saya. . “Terima kasih”

Sampai di sini “Peserta selanjutnya, Hanif Nur Fauzi” terdengar suara pembawa acara datar, memanggil nama saya dan membuyarkan lamunan saya yang singkat tadi, dan untungnya itu hanya lamunan saja.

Saya menggerakkan badan melangkah menuju panggung, rasa gugup muncul lagi menemani pidato saya plus bonus pertanyaan kejutan dari juri kurang lebih sekitar 7 menit tapi rasanya hanya beberapa detik saja saya turun kembali dari panggung menuju tempat duduk saya semula, disambut sensei dan teman-teman seperjuangan , “Alhamdulillah sudah selesai, terima kasih sensei, teman-teman” saya bergumam lirih. Sekarang giliran saya menyemangati prajurit lainnya yang sedang bertarung di depan sana.


 Sedikit banyak saya belajar tentang diri saya sendiri, terkadang ketika saya gugup sebenarnya bukan hanya karena ada perasaan kurang PEDE, tapi terkadang gugup menandakan seberapa antusiasnya kita melakukan sesuatu dan menunjukkan parameter seberapa keseriusan diri kita baik sadar maupun alam bawah sadar.

Exit mobile version